Nyasar di UKI

uuuuuuuuuuurgh………. pengalaman yang bikin cape hati…

keluh bermula ketika peluh mulai bercucuran..

Selasa, 01 juni 10

Sore hari aku memutuskan untuk pulang ke tempat dimana aku bisa makan sepuasnya [baca: rumah]. Dengan bermodalkan badan kurus pake jaket, clana pendek, and sendal jepit, aku membawa serta tas bueesar [mirip travel bag] yang berisikan beautycase dan alat2 make up lainnya.. gue yakin klo di bagasi bandara, koper gue pasti kena charge tambahan coz melebihi kapasitas…

Sewaktu aku kluar dari kost dan menaiki angkot pertama, semua berjalan lancar, walaupun mengalami susahnya menarik tas besaaar itu.. Untung tas nya memiliki roda.. jadi bisa ditarik dan dorong. Maka hal itu tidak kuanggap sebagai masalah. Sampai aku harus keluar dari angkot dan berganti bus, aku harus menyeberang melawati jembatan slipi jaya.. masalah mulai timbul.. banyak anak tangga, dan lumayan susah untuk menarik atau pun mendorong tas itu. Dengan susah payah, akhirnya jembatan terlewati dan berhasil mendapatkan bus.

Masalah kedua muncul ketika bus itu tidak berhenti ditempat biasa aku turun [halte plasa semanggi]. “Ooooooh nooooooo”, pikir ku ketika bus itu memasuki tol dan tidak kluar tol dekat semanggi…pikiran selanjutnya adalah “turun dimanaaaa nih …?” aku bener-bener ga tau harus turun dimana, dan apakah bus ke arah Cikarang masih bisa lewat di tempat aku berhenti nanti… “aaaaaaaaargh, aku tersesat”

Dengan sangat menyakinkan supir bus menenangkanku dengan berkata “tenang neng ntar turun di Pancoran aja”. Aku jawab ketus, “bukannya gitu bang, saya mau ke cikarang bang, bus nya ada di semanggi, trus masuk tol”. Lalu supir itu berdalih, ” ya udah dari uki aja neng, ada bus ke Cikarang dari sana, naek bus no [sekian-sekian]”.. dan ternyataaaaa… kebohongan besaRRRR [pake R besar biar puas].. ga ada bus ke Cikarang.. adanya mikrolet, desek-desekan, impit-impitan. Kondisi ku tidak memungkinkan untuk naek mikrolet. ‘Coz bw tas yg berat itooooh. Lagi pula itu mikrolet ga sampe depan rumah [klo naek bus, turunnya depan perumahan, tinggal jalan dikit sampe rumah]. Tetep harus naek angkot lagi, baru bisa sampe tujuanku. Grrrrr.

Karna kepepet, jadi naek taxi aja deh. Biar murah, nanti turunnya kalau abis kluar tol Cikarang aja, ga perlu sampai rumah, pikirku. Wah taxi burung biru lewat, lalu aku panggil. “Sip, aku selamat.” Hmmmm…. dah bilang belom ya klo uang yang aku punya tinggal 30.000 rupeeeah.. pas buat naek angkutan umum setaraf angkot and bus or patas AC. Aku baru menyadari hal ini setelah kepala adem kena AC di dalam taxi, setelah keringat telah habis terhapus, dan setelah lelah terurai di nyamannya kursi taxi.

Masalah selanjutnya adalah [you know what it is] “ga ada uang neeegh buat bayar taxi sampe tol… Hmmm… Wah kalo gini sih harus sampe rumah ni taxi“. Rencana gagal, akhirnya taxi dengan selamat mengantarku sampai di rumah dengan biaya 140.ooo rupiah [include uang tol]. Marvelous.

The End…………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s